Sekjen OIAA: Boleh Memilih, Daurah Lughah Bisa di Indonesia atau di Kairo (Bag. 4)

Berikut ini adalah bagian 4 (terakhir) dari penjelasan tentang polemik Markaz Lughah yang disampaikan oleh sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Dr. Muchlis M. Hanafi. Di bagian ini, ia menjelaskan tentang tujuan Daurah Lughah diadakan di Indonesia hingga perbandingan simulasi biaya Daurah Lughah di Indonesia dengan Daurah Lughah di Kairo.

Ya tujuannya… Terus terang dari awal saya agak sedih juga ketika ada omong omongan kita mau berbisnis dan sebagainya. Kita dari awal itu niatanya adalah untuk membantu, mencari solusi dari masalah masalah ini dan kita terpanggil untuk mempersiapkan kemampuan dan keterampilan berbahasa Arab.

Baca Juga: RIC Buka Bimbingan Online Tes Timur Tengah Gratis

Saya sekembali dari kairo tahun 2006 itu yang pertama saya tawarkan kepada menteri agama ketika saya ditanya “Bagaimana menyelesaikan persoalan di Kairo?”, saya bilang “Adakan seleksi”. (Tahun) 2006 itulah pertama diadakan seleksi untuk memastikan bahwa yang ke Kairo itu betul-betul memiliki kemampuan bahasa Arab.

Yang kedua kita ingin mencoba mengatasi berbagai potensi permasalahan yang mungkin timbul selama satu tahun, masa tunggu kuliah di mesir.

Dan yang ketiga tentu kita juga ingin mempersiapkan kesiapan mental dan membuka wawasan keislaman calon mahasiswa sesuai dengan manhaj Al-Azhar. Supaya nanti ke Kairo tidak shock culture. Tidak kaget, temasuk (dengan) pemikiran-pemikiran dan lain sebagainya dalam proses itu. Jadi kita bukan hanya soal bahasa, soal manhaj dan lainnya juga itu.

Jadi ini juga akan kita sisipkan selama pendidikan dan pelatihan itu. Saya ingat pesan dari Pak Dubes di Kairo, “Tidak sedikit yang sedang kuliah di kairo sekarang ini yang casingnya Iphone tapi isinya Huawei”. Ijazahnya A-Azhar tapi pikirannya, manhajnya bukan Al -Azhar. Ini perhatian kita bersama.

Mengapa berbiaya tinggi? Nanti kita akan lihat setiap level dan royalti, kemudian karena kurikulum, bukunya, tenaga pengajarnya, semuanya dari sana. Jadi buku-buku dari sana. Tenaga pengajar dari sana. Kalau pun ada dari orang Indonesia itu harus mereka uji dulu, mereka latih dulu sekian lama, dapat sertifikiat, baru boleh (ikut mengajar). Dengan penjaminan mutu, jadi tenaga pengajar dari sana. Dalam MOU itu untuk 750 orang, itu tenaga pengajar dari sana 8 orang. Mau tau gajinya berapa. minimal 3.000 usd perbulan per orang.

Ini level tahdid mustawanya, dari 1 sampai 6 masing masing 1,5 bulan. Kemudian mutamayyiz 1 bulan. Nanti siapapun yang akan ikut Markaz Lughah (Daurah Lughah) baik di Kairo maupun di Indonesia, itu ditentukan levelnya setelah ujian tahdid mustawa.

Tahdid mustawa itu juga ujiannya tidak gratisan. Itung-itungan kita kalau tahun 2019 mulai, bulan Juni setelah lebaran yang bisa langsung kuliah di tahun berjalan itu adalah kalau dia mampu menyelesaikan 4 level.

Kalau lihat data kemaren yang mutawassit awwal, maka dengan asumsi dia mutawassit awwal, muwassit tsani, mutaqaddim awwal, mutaqaddim tsani, 4 bulan itu perkiraan kita bisa diselesaikan 5-6 bulan di sini (di Indonesia), sehingga dia bisa langsung ke sana bisa kuliah di tahun berjalan sambil menyelesaikan mutamayyiznya.

Jadi mutamayyiznya tetap di sana, demi mengejar ujian semester di bulan Januari. Ini perlu saya tekankan kalau kita bisa memberikan garansi bahwa yang ikut markas di Indonesia itu bisa langsung kuliah, itu adalah yang tahdid mustawanya mulai dari mutawassit awwal. Kalau harus dari mubtadi awwal, nambah lagi durasi waktunya, kecuali nanti kita bisa press satu level jadi 3 minggu.

Kira-kira angkatan belajaranya itu begini, angkatan 1 itu Juni sampai November 2019. Ini kita hanya mampu makasimal satu angkatan 750 orang karena sistem yang digunakan itu berdasarkan lokakarya pengajaran bahsaa arab waktu itu kami undang pakar pakar pengajaran bahasa Arab alumni Al-Azhar. Kita minta rekomendasi mereka bagaimana mempersiapkan bahasa camaba. Rekomendasi mereka adalah di asrama.

Inilah nanti yang akan menjadi nilai lebih dibanding kalau dia ikut di Kairo. Dengan sistem asrama menyediakan fasilitas asrama untuk 750 orang tidaklah mudah. Kami kemungkinan maksimal hanya 750 orang dengan tenaga pengajar 15 orang dan administrasi karena ada juga administrasi yang dari Kairo. Angkatan kedua ini yang terpaksa tidak masuk angkatan pertama mau tidak mau bisa mulainya itu desember 2019.

Di Kairo sekian, saya ingin ikut di Kairo, silakan ikuti di Kairo. Di Kairo mungkin lebih murah dan seterusnya. Jadi kita tidak paksa. Mohon yang keberatan tidak usah rame-rame pergi saja ke Kairo, ada pilihan. Karena kita juga tau diri tidak bisa menampung semua. (ada bagian terpotong)

Saya sudah dihubungi juga kawan dari Singapura dan dari Malaysia mereka berminat. Jadi kalau orang Indonesia tidak berminat ya karena di Asia Tenggara baru ada satu. Malaysia tanda tangan kemaren ternyata gagal. Dibatalkan MOU nya karena alasan tertentu.

Ada yang meghubungi saya bagaimana kalau mahasiswa Malaysia juga bisa ikut di Indonesia. Saya bilang saya mau lihat dulu nanti minan mahasiswa indonesia, kalau kosong saya tampung semua.

Keuntungan mengikuti kelas bahasa di Indonesia, pertama calon mahasiswa yang berangkat ke Mesir lebih siap secara keilmuan dan keuangan, karena telah teruji. Kemudian bisa langsung masuk kuliah di tahun berjalan dengan catatan kalau dia mutawassit awwal. Kalau mubtadi awwal saya tidak jamin.

Kita berharap pendidikan di Indonesia lebih efektif dan kondusif karena menggunakan sistem asrama. Saya sudah tinjau ruangan-ruangannya. Ada ruangan teaternya, ada ruangan bahasa, laboratorium bahasa. Fasilitasnya kita penuhi sesuai standar. Kita studi bandingnya ke ELF yang bahasa Inggris. Kita tiru yang bagus-bagusnya dari sana sebab kita juga mau promosikan juga (hingga nantinya diketahui) ternyata di Indonesia lebih baik dari yang di Kairo, pengennya.

Kemudian yang terakhir ya terhindar dari masalah sosial, masalah keamanan, dan keimigrasian selama masa tunggu satu tahun di Mesir. Kalau bisa diselesaikan di Indonesia, ke Kairo itu hanya tinggal belajar kuliah.

Kita buat simulasi. Angka-angka ini bukan biayanya segini. Ini yang foto-foto nanti dan diviralkan (saya tegaskan) ini hanya simulasi.

Misalnya begini. Kalau ikut di Indonesia, biaya Tahdid Mustawanya 70 usd. (Sejumlah) 50 USD dalam MOU kita setor ke pusat. (Sisanya) 20 USD untuk membiayai tim yang dari sana, biaya operasional. (Untuk) di Indonesia, kita hanya bisa ambil 20 USD.

Per level kalau di Indonesia dengan asumsi 750 orang maka harus menyiapkan fasilitas dan sarana per level itu. Hitungan kita juga klop dengan hitungan Malaysia yang tadinya mau buka, satu levelnya itu jadi 200 USD.

Saya tanya perbandingan ke ELF (lembaga Bahasa Inggris) dan sebagainya ternyata rata-rata segitu biayanya. Karena kita biasanya gratisan di Al-Azhar jadi kaget. Kemudian kalau di Mesir, itu hanya 720 pond mesir dan katanya mau dinaikkan. (Uang) 720 pond mesir itu kira kira 40 USD. Per level, inilah yang kalau mahasiswa di Kairo itu dikasih taunya gratis, kaget 1 level 40 usd.

Biaya hidup selama mengikuti kelas bahasa di sini ini yang menetapkan (adalah pihak) Universitas As-Syafiiyah, bukan saya. Asrama, makan 3 kali, jatuhnya 2 juta. Ini bukan kita yang mengelola. tapi As-Syafiiyyah. Perbulan saya hitung-hitung jatuhnya segitu juga sih. Kos di Ciputat dan makan hampir sama.

Kalau di Kairo 100 USD per bulan. Itupun udah ngepres. Saya tanya sekarang sewa rumah juga sudah 200-an USD juga (atau sekitar) 200-300 USD.

Nah simulasinya begini. Seandainya dia ikut 4 level, jadi kalau di indonesia biaya 70 dengan kurs 14.000 itu jatuhnya untuk biaya ujian tahdid mustawa 980.000. Kalau di Mesir hanya 50 pond. Mengapa di Al-Azhar murah, saya kan protes (kepada pihak Daurah Lughah). Kenapa jauh sekali. Dia bilang yang di Kairo itu di subsidi.

Di Kairo itu ada dua kelas juga. Ada yang namanya Dirasah Hurrah (dan) ada yang sudah muqayyad tadi. Yang dirasah hurrah itu 1 levelnya 400 USD. Nah untuk mahasiswa yang sudah muqayyad (yang sudah lulus tes dari Kemenag) itu yang 720 pond. 

Biaya pendidikan kalau dia 4 level, 4 kali 200 kali 14.000 maka jadinya 11.200.000. Kalau di Kairo hanya 2.240.000. Kalau biaya hidup di sini 6 kali 2 juta 12.000.000. Kalau di Kairo kan harus setahun, berangkat Oktober nanti berangkat (masuk kuliah) Oktober lagi (di tahun berikutnya).

12 kali 100 USD jadinya 16.800.000. Kira-kira, ya kalau di sini dia 24.180.000, kalau ke Mesir untuk bisa sampai pintu gerbang kuliah 19.080.000. Lebih murah memang 5 juta. tapi, satu tahun harus menunggu.

Dan dalam satu tahun itulah menghadapi berbagai persoalan di Kairo menghadapi orang Mesir. Jadi ada sosial cost, ada biaya untuk pendidikan memang harus dikeluarkan. akomodasi dan lainnya. Itu kira-kira perbandingannya begitu.

Ini dari segi biaya. Kalau dari sosial cost-nya bisa dilihat ya selama masa tunggu itu harus siap berhadapan dengan berbagai persoalan.

Ya itu tadi, terbuang satu tahun, meski sebenarnya istilah umur terbuang itu tidak ada asalkan bisa memanfaatkan saja dengan baik. Tetapi berbagai persoalan yang ada, kita kaji, tidak sedikit yang kehilangan orientasinya.

Ya itulah kira-kira gambarannnnya. Silakan setelah itu kita diskusi. Tapi sekali kami menyadari, keterbatasan kami. Kita sudah berusaha maksimal. Bagaimana ini bisa ditekan semurah-murahnya. Keluarnya segitu juga.

Pada akhirnya saya dengan TGB lama berfikir berdiskusi, kita tanda tangani atau tidak. Lalu saya katakan, “Bismillah, kita tanda tangani saja sebagai langkah awal”.

Berikutnya, kita tidak diam. Banyak cara yang mudah-mudahan bisa kita tempuh. Setelah kita mulai, ni kan kalau kita belum mulai, kita belum bisa yang lain lain. Setelah kita mulai itu nanti bisa saja setelah beberapa bulan saya akan lapor ke Syekh Azhar, “Ini markas lughah yang di Indonesia ini memberatkan. Tolong dosen-dosen yang dikirim itu yang gaji Azhar saja”. Tidak menutup kemungkinan akan dikabulkan, tapi kan harus mulai.

Kemudian, bisa saja di Indonesia nanti saya akan lapor Pak Menteri, “Pak Menteri, tolong anak-anak yang mau ke Kairo ini harus mengikuti kursus dengan biaya sekian. BIsa ga dari Kementrian Agama memberikan kontribusi”. Tidak menutup kemungkinan walaupun saya ga janji.

Kemudian ini terjadi pada kasus asrama (Indonesia di Kairo). Asrama itu saya ingat tahun 2017 itu kan diprotes banyak orang. Indonesia punya 4 bangunan kapasitas 1.200 orang, mankrak. Ga digunakan. Semuanya sudah lengkap. Kasurnya, dipannya, sampai debunya sangat tebal.

Saya dengan pak menteri meninjau bagaimana solusinya. Maka tahun 2017 kita wajibkan maba (mahasiswa baru) masuk asrama. Karena Al-Azhar hanya bisa tanggung listrik, air. Sementara untuk makan penghuninya tolong bayar. Berapa? 50 USD (per bulan) untuk tiga kali makan sehari. Ukuran ayamnya itu orang Mesir. Ayamnya itu belah enam atau belah empat. Tiga kali sehari.

Saya hitung hitung sekitar 750.000. Saya tanya ortu yang anaknya kuliah di Ciputat. Untuk makan tidak kurang dari satu juta. Akhirnya kita wajibkan tahun 2017 masuklah 900-an orang walaupun kemudian, diprotes banyak orang. Diprotes mati matian. Gapapa.

(Tahun) 2018 ya kita tidak paksa, silakan yang mau (dan) dapat 600 orang. Tapi saya ke Baznas, saya ke kemenag, “Tolong pak, dibantu, disubsidi”.

Tadi Pak Iwan sudah cerita 2018 ada dialokasikan anggaran bantuan. Saya ditanya, “Disalurkan ke mana?”. Tolong bantu yang di asrama saja. Akhirnya bantuan itu disalurkan ke asrama. Mudah-mudahan nanti dari Baznas, dari lain lain membantu.

Jadi kita tidak diam. Tapi kita harus mulai mencari solusi dan sayang sekali asrama itu yang tidak bisa kita gunakan secara maksimal. Padahal dulu itu belasan milyas dari pemerintah Indonesia. saya kira itu. 

Inilah akhir penjelasan penutup dari sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Dr. Muchlis M. Hanafi.