Sekjen OIAA: Boleh Memilih, Daurah Lughah Bisa di Indonesia atau di Kairo (Bag. 3)

Berikut ini adalah bagian 3 dari penjelasan tentang polemik Markaz Lughah yang disampaikan oleh sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Dr. Muchlis M. Hanafi.

 

Jadi karena harus menunggu menyelsesaikan kelas bahasa, muncul banyak persoalan lagi. Saya tanya tahun 2018 itu (bertanya) berapa peserta didik di markaz lughah. Ada 4.500 orang dengan kelas dan ruangan yang terbatas. Kelasnya itu shift-shift-an. Sehari hanya jam 7 sampai jam 12. (Durasi) 5 jam. Lalu ada kelas sore.

Baca Juga: RIC Buka Bimbingan Online Tes Timur Tengah Gratis

Bahkan saat itu saya juga sempat menyaksikan Imtihan Tahdid Mustawa, itu sudah masuk ke masjid Az-Zahra Madinat Nashr dipakai kelas. Dan jangan girang dulu bagi yang mustawanya tinggi. Seperti mutaqaddim awwal, 2 sampai 3 bulan selesai. Karena dia harus antri nunggu kawannya. Jadi bisa jadi nggak langsung masuk disitu. Nunggu di bulan bulan selanjutnya.

Bagaimana dengan iqamahnya (visa). Di sini muncul banyak persoalan. Ada persoalan ekonomi. Ada seniornya yang menjanjikan, “Oooo (berangkat) ke Mesir aja. Gratis semuanya di situ. (Padahal) Itu jaman dia belajar tahun 80-an.

Kemaren wakil ketua PPMI dan sekjennya yang menemui saya bilang, “Ustaz, maba yang datang 2018 ini hampir 10% kerja di mat’am (pegawai rumah makan dengan jumlah) 10% dari 1.800. Saya pikir ironis juga.

Kalau dulu itu saya juga modal nekat ke Kairo. Ndak punya uang itu biasa dan kalau persoalan hanya makan itu bisa kita siasati itu. Pagi saya bisa ke mana siang kemana dan malam kemana. Tapi ketika mereka masuk Markaz Lughah, dan harus bayar, dari mana dapat uangnya.

Problem imigrasi. Iqamah (visa) tiap 3 bulan. Masukkan saja baru keluar sebulan atau sebulan setangah. Lalu keluar harus masukkan lagi. Begitu setiap 3 bulan. Banyak sekali teman teman yang iqamahnya mati sehingga pas ada razia dan pemeriksaan kena.

Tahun lalu kita sering juga turun tangan dari sini, kita minta bantuan pimpinan pusat. Akhirnya kita push (tekan) dari Al-Azharnya. Banyak kita mendapatkan keluhan-keluhan terkait dengan persoalan ini. Belum lagi kerawanan sosial, pergaulan.

Kemaren itu kita berangkat ke sana. PPMI dan yang lainnya merekomendasikan kalau bisa jangan lebih dari 1000 deh tahun ini. Siapa yang bisa membatasi orang berangkat ke sana? Kita tanya idealnya berapa. Sekitar 750 atau 800 lah. Bagaimana caranya.

Karena kerawanan sosial dari sisi keamanan banyaklah cerita cerita begitu ya. Belum yang terlibat, karena kosong ngaji kemana-mana yang ga tau kajiannya bermasalah. Salah pilih guru. Makanya sekarang Al-Azhar ketat. Yang mengikuti sekolah di luar Masyayikh Al-Azhar, PPMI yang keluarkan seruan. Ini berbagai persoalan yang muncul. Ada disorientasi dari tahun pertama masa tunggu kuliah itu. Ketika menyelesaikan kelas bahasa. Lanjut

 

Lalu dari situlah kita setelah menandatangani MOU kita siapkan segala sesuatunya. Kita mau buat pendidikan dan pelatihan untuk sekian banyak orang. Akhirnya carilah di universitas Islam Asy Syafi’iiah. Ada beberapa gedung yang bisa kita pakai. Ini beberapa gedung yang bisa kita pakai. Tanggal 20 Maret InsyaAllah kita akan mandatangani MOU kerja sama penyelenggaraan markaz lughah dengan memanfaat sarana prasarana yang ada. Sambil kita menyiapkan gedung, karena tuntutat dalam MOU harus ada gedung yang standar. Jadi mereka minta surat apakah universitas syafiiyyah ini terindikasi beraliran tertentu. Sambil kita memikirkan bentuk pendidikan yang permanen yang nantinya kedepan bisa kita kembangkan sebagai pusat pendidikan sekolah Al-Azhar di Indonesia. ini sih nanti ya.

Bersambung…