Sekjen OIAA: Boleh Memilih, Daurah Lughah Bisa di Indonesia atau di Kairo (Bag. 2)

Berikut ini adalah sambungan dari penjelasan tentang polemik Markaz Lughah yang disampaikan oleh sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Dr. Muchlis M. Hanafi  (Lihat Bagian 1)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pusat bahasa yang rencananya akan kita buka di Indonesia sementara masih bernama PUSIBA, Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab. Mudah-mudahan tidak menjadi “Musibah”. PUSIBA adalah sebuah lembaga berbadan hukum yang dibentuk oleh Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pengajaran studi Islam dan Bahasa Arab sesuai metode Al-Azhar di Mesir.

Baca Juga: RIC Buka Bimbingan Online Tes Timur Tengah Gratis

 

Kita sudah diberi mandat sesuai dengan MOU yang telah kita tanda tangani. Gambar yang ada dibagian kanan ini MOU) ada 3 lembar, pasal demi pasal yang negosiasinya itu alot sekali. Kami bukan tidak memperjuangkan sampai titik darah penghitu abisan, habis darah kita ini, inilah hasilnya. Jadi yang menandatangani itu ada Prof. Dr. Abdul Fadhil Al-Qushy, dan pimpinan-pimpinan yang ada di OIAA pusat. Saya kira latar belakangnya sudah diuraikan.

 

Kita lihat di grafik ini, peminatnya selalu mengalami peningkatan. Tahun 2014 pendaftar 1.079 orang. Lalu 2017 ada 4.483 orang. 2018 sudah 9.000-an orang. Kita lihat dari yang berangkat 2014 ada 417 orang lalu 2017 ada 1.553 orang. 2018 dengan yang beasiswa 2000 orang. Trennya meningkat.

 

Kita cermati hasil tahdid mustawa tahun 2014. Dari tahun ke tahun hasil seleksinya lihat yang terakhir saja, ini belum masuk 2018/2019. 2017/2018 rata rata di level Mubtadi Tsani. Tahun sebelumnya didominasi oleh Mutawassit Awwal. Jadi rata rata kemampuan ini kalau dilihat 2018/2019 ini lebih memprihatinkan lagi. Rata-rata mustawanya Mubtadi Awwal, Mubtadi Tsani, Mutawaasit Awwal. Yang Mutamayyiz, Mutaqaddim Tsani tidak ada. Mutaqaddim Awwal sekitar 19 orang. Selebihnya di level Mubtadi Awwal, Mubtadi Tsani, Mutawassit Awwal. Saya tidak tahu salah di kitanya calon mahasiswanya atau sistem seleksinya. Ini perlu kita telusuri juga tapi tidak mungkin kita menyalahkan mereka. Mereka punya sistem. Tapi begitulah data-datanya. 

Bersambung…