Sekjen OIAA: Boleh Memilih, Daurah Lughah Bisa di Indonesia atau di Kairo (Bag. 1)

RUWAQ.ID, Jakarta – Dalam lokakarya yang diadakan pada Jumat (08/03) kemarin, sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Dr. Muchlis M. Hanafi menjelaskan secara rinci polemik Daurah Lughah yang dikabarkan akan diadakan di Indonesia dengan biaya tinggi. Tim dari Ruwaq.id berkesempatan untuk menghadiri acara tersebut dan membuat trasnkrip dari penjelasan Sekjen OIAA. Berikut penjelasannya:

Baca Juga: RIC Buka Bimbingan Online Tes Timur Tengah Gratis

Satu tawaran yang tahun 2019 ini mudah-mudahan dapat menjadi salah satu solusi dan dari sekian banyak persoalan yang dihadapi oleh calon mahasiswa baru. Persoalan intinya sebenarnya bermula dari keprihatinan dari pimpinan yang ada di Al-Azhar: Grand Syekh, lalu para penasihatnya. Saya sudah lama mendengar. Apa yang menjadi keprihatinan mereka adalah kemampuan bahasa calon mahasiswa Asing di Al-Azhar sangat (minim?). Itu sudah lama saya dengar dari mereka, dari sejak tahun 2008-2009.

Lalu mereka mencari bentuk kemudian mereka mengadakan seleksi sampai akhirnya mereka membentuk Markaz Lughah. Setelah dipelajari, Markaz Lughah ini berbiaya tinggi. Sehingga kemudian, Al-Azhar yang kemampuannya terbatas, menemukan sponsor dari Uni Emirate Arab. Maka Markaz nya itu bernama Markaz Syekh Zaid Li Ta’limil Lughah Arabiyya Li Ghairinnathiqina Biha. Tapi rupanya, bantuan ini hanya di awal saja. Operasional selanjutnya itu suruh mencari.

Maka dari sini Markaz Lughah menetapkan sipapapun yang belajar di situ ditarik biaya. Ini seperti yang diketahui oleh teman-teman kita yang pernah tinggal di Mesir tahun 80-an dan 90-an tidak ada hal seperti ini. Jadi mereka ingin kualitasnya meningkat tapi resikonya ada biaya yang harus dibebankan kepada calon mahasiswa. Berjalanlah Markaz Syekh Zaid itu, dengan segala persoalan yang ada sampai tahun 2016 bulan Juli saya mendampingi Menteri Agama.

Menteri Agama banyak sekali mendapatkan laporan dari mahasiswa dan KBRI, yang terkait dengan kelas bahasa ini. Kemudian saat audiensi dengan Grand Syekh Al-Azhar disampaikan disepakati boleh mendirikan Markaz Lughah di Indonesia sebagai solusi. Bisa dilacak jejak digitalnya di detik kom. Bahkan waktu itu saya sangat gembira karena (pihak Al-Azhar mengatakan), “Silakan guru-gurunya dikirim dari Indonesia atau dipilih dari mahasiswa Indonesia di Kairo, kami latih dan mereka nanti yang mengajar”.

Selepas dari Syekh Azhar itu saya senang, Pak Menteri perintahkan,  “Tolong kita akan bikin”. Saya (pergi) ke pengelola Markaz Lughoh. Disodorkanlah draft MOU yang membuat kepala saya pening. Karena ada itungan-itungannya.

Dari 2016 itulah lalu kemudian kita negosisasi. Menteri Agama kembali lagi tahun 2018 Januari. Saya ikut mendampingi saat konferensi Yerussalem Al-Quds, disampaikan lagi persoalan ini. Ditawarkan oleh Al-Azhar, “Kirimlah mahasiswa Anda lebih cepat seperti Malaysia. Mereka kirim di bulan Februari, di bulan April. Sehingga nanti sampai Oktober November selesai kelas bahasa”. Kita tidak bisa mempraktekkan solusi ini. Terus kita negosisasi sampai akhirnya tanggal 26 Desember 2018 saya dengan Tuan Guru Bajang, sudah letih juga negosisasi, akhirnya kita tanda tangan.

Bersambung…