Kisah Alumni: Menuju Negeri Seribu Benteng, Maroko

Assalamualaikum Sobat Muslim…

Bagaimana kabar kalian semuanya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan kalian kesehatan. Amin.

Perkenalkan nama aku Adib Fayyad. Aku alumni Pondok Pesantren Ar Risalah, Lirboyo, Jawa Timur. Aku ingin berbagi kisah perjalananku dari Indonesia menuju Negeri Seribu Benteng, Maroko. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi buat sobat semua.

***

Setelah lulus dari pondok, aku merasa takjub dengan sosok Ustadz Abdul Somad. Setelah aku cari tahu, ternyata beliau lulusan dari universitas di Maroko. Aku bertekat ingin seperti beliau dengan melanjutkan pendidikan ke universitas yang sama dengan beliau, di Maroko.

Setelah mencari tahu, aku mendapatkan informasi bahwa terdapat 2 jalur untuk kuliah ke Maroko yaitu jalur Kemenag dan jalur dari PBNU. Aku sangat berharap bisa lulus dari salah satu jalur ini.

Aku menyadari bahwa peminat beasiswa pendidikan ke Maroko cukup banyak. Apalagi jumlah mahasiswa yang diterima sangat sedikit. Untuk memuluskan langkahku, aku langsung mencari tempat bimbingan tes Timur Tengah. Setelah berselancar di google, aku menemukan lembaga persiapan bimbingan tes ke Timur Tengah yaitu Ruwaq Indonesia Center (RIC).

RIC atau yang juga disebut Ruwaq dibimbing oleh para alumni Al-Azhar Mesir. Lembaga yang terletak di Ciputat ini dipimpin oleh Ustadz Ahwazy Anhar yang merupakan alumni dari Al-Azhar Mesir. Dari sinilah kisahku dimulai.

Pada bulan pertama mengikuti bimtes, aku bersama teman-teman yang sudah terdaftar di tatap muka Ruwaq dibekali dengan pelajaran Bahasa Arab, Balaghah, Tarjamah dan membahas soal-soal kemenag dari tahun 2010 sampai 2018.

Tepat di saat program bimtes telah selesai, Kemenag mengumumkan secara tiba-tiba bahwa sistem ujian berubah 180 derajat dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai tahun 2019 tersebut, seleksi Kemenag dibagi menjadi dua tahapan yaitu Tes Toafl pada tahap pertama dan dilanjutkan dengan tes lisan dan tes hafalan Al-Quran pada tahapan kedua.

Tentu saja, perubahan tersebut membuatku dan teman-teman yang lain sangat kaget. Apalagi aku sudah mengikuti bimbingan tes selama 1 bulan di Ruwaq. Meski begitu, aku tidak mau kaget terlalu lama. Aku tetap punya keingingan yang sangat kuat untuk menginjakkan kaki di Maroko. Jadi, apapun penghalangnya aku bertekat untuk melewatinya.

Tanpa pikir panjang, aku langsung mencari bimbingan ujian Toafl. Ternyata, Ruwaq kembali menjawab kebutuhanku. Selang beberapa waktu, Ruwaq membuka pendaftaran untuk persiapan ujian Toafl. Aku berharap, semoga ini adalah jalan yang tepat untuk menuju negeri seribu benteng.

Setelah kurang lebih sebulan, tibalah saat nya untuk menghadapi seleksi Kemenag tahap pertama. Dengan persiapanku di Ruwaq, aku mengerjakan setiap butiran soal-soal Toafl dengan mudah dan  aku yakin dengan izin Allah aku bisa lolos.

Tibalah saat nya pengumuman hasil ujian Toafl. Benar saja, alhamdulillah namaku berada diurutan ke 47 dari 1.616 peserta yang lolos tes Kemenag tahap pertama ini. Setelah aku cari tahu lebih jauh, ternyata nilai Toafl yang aku dapatkan adalah 99%. Aku sangat bersyukur. Inilah jawaban dari Allah atas doaku selama ini.

Tapi perjuanganku masih belum selesai. Aku harus menghadapi sesi selanjutnya yaitu ujian lisan.

Selain mengikuti jalur Kemenag, aku juga mengikuti dari jalur PBNU. Perjuanganku mengikuti tes PBNU, benar-benar lebih berat dari Kemenag. Aku harus mempersiapkan dokumen-dokumen terlebih dahulu ke PBNU. Hampir 4 kali aku bolak-balik ke kantor PBNU untuk mencari tahu berkas-berkas yang dibutuhkan. Lebih dari itu, aku pernah menunggu pihak PBNU hingga beberapa jam dengan tujuan hanya untuk memberikan berkas. Meski berat, tapi keinginanku mengalahkan rasa capekku. Aku rela berkorban demi ke Maroko.

***

الدعاية والإعلان

  • Dibuka Kembali, Kelas Reguler Tatap Muka Angkatan II

  • Belajar Bahasa Arab dari Nol dengan Al Madkhal; Ringkas dan Mudah

Untuk menghadapi seleksi tahap kedua dari Kemenag, seperti ujian sebelumnya, aku juga mengikuti bimbingan belajar bersama Ruwaq. Aku dibekali dengan materi-materi tahfiz dan percakapan dalam bahasa Arab.

Saat menghadapi tes wawancara, aku merasa sangat tegang.  Pasalnya, penguji mengajakku berbicara dengan bahasa Arab dengan sangat cepat dan bagiku artikulasinya kurang jelas. Aku ditanya tentang beberapa hal seperti latar belakang pendidikan di Lirboyo, diminta bercerita tentang keluarga dan juga tes hafalan Al-Quran. Ini adalah tes yang sangat sulit menurutku. Namun begitu, aku tetap berusaha semaksimal mungkin.

Selain itu, pada tes wawancara ini aku juga ditanya tentang tes kebangsaan yang terkait dengan  khilafah, radikalisme dan pilar Indonesia. Alhamdulillah, karena semuanya telah disampaikan di Ruwaq, aku bisa melewati tes ini dengan baik. Kemudian aku menunggu hingga hasil kelulusan dari Kemenag dalam waktu yang lumayan lama.

Di samping itu, aku tetap mengikuti ujian jalur PBNU untuk berjaga-jaga jika aku tidak lulus melalui Kemenag. Ujian yang diberikan melalui jalur ini hanya satu sesi yaitu wawancara berbahasa Arab, hafalan Quran, tes tulis dan insya’. Setelah mengikuti tes ini, aku pun sowan ke Kyai Said Aqil Siraj dan meminta doa restu agar lulus ujian tersebut.

Keesokan harinya, pengumuman tes Kemenag keluar. Allhamdulillah aku tergabung ke dalam 1 dari 15 orang yang lulus tes beasiswa ke Maroko. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan dan membantu.

***

Setelah menunggu lama, tibalah saatnya aku berangkat ke Maroko. Aku menumpangi pesawat Saudi Arabian Airlines dengan sekali transit di jeddah. Setiba di bandara Maroko, aku dijemput oleh PPI Maroko dan KBRI MAROKO.

Jadi itulah kisah perjalananku dari Indonesia menuju Maroko untuk mengenyam pendidikan di  Universitas Sidi Mohamed Ben Abdellah Fes. Jika kalian penasaran bagaimana keseharianku di Maroko, silakan kunjungi Channel Youtube-ku yang ada di bawah atau melalui IG-ku di @Adibfayyad_07